Selasa, 19 Mei 2009

Koalisi Permanen HNW-Diana


Kelahiran anak kembar mereka yang keenam dan ketujuh semakin mengokohkan koalisi permanen Hidayat Nur Wahid dan Diana Abbas Thalib.

Di tengah ramainya bursa pencalonan capres-cawapres 2009, berita gembira datang dari pasangan Hidayat Nur Wahid (HNW) dan dr. Diana Abbas Thalib. Pertengahan bulan lalu, mereka semakin mengokohkan koalisi mereka dengan istilah koalisi permanen. Seperti apa?

Saling Mendukung Meski Sama-sama Sibuk
Pasangan HNW-Diana rupanya sedang berbahagia setelah dikaruniai dua jagoan cilik, Daffa Muhammad Hidayat dan Daffi Muhammad Hidayat. Sesaat setelah si kembar melihat dunia, Hidayat langsung membisikkan adzan di telinga mereka.

Ketika menjalani pemeriksaan janin pada minggu ke-32 di RSPI, diketahui bahwa kondisi kehamilan dr. Diana kurang baik. Dokter pun lantas memutuskan melakukan terminasi (pengakhiran kehamilan). Tim dokter memutuskan agar Diana segera menjalani operasi caesar. Selama proses melahirkan, Hidayat dengan setia terus mendampingi sang istri. Sementara kelima anak dan keluarga menunggu di luar kamar operasi. Lahirlah dua bayi kembar itu pada Rabu (15/4) lalu pukul 22.17. Hidayat-Diana merasa amat bersyukur karena kedua anaknya selamat.

Menurut Hidayat, peristiwa ini adalah suatu perjuangan, baginya dan istri. Hidayat masih harus mengurus masalah umat dan di sisi lain juga tak henti memberi dorongan kepada sang istri. Beliau menyempatkan diri untuk datang tiap hari ke rumah sakit. Dokter Diana pun merasakan hal yang sama. Saat aktivitasnya harus dikurangi karena kehamilan, beliau hanya mampu mendukung Hidayat dengan doa dan meng-update berita terkini. Untuk sementara, tugasnya menemani Hidayat menghadiri acara-acara tidak dapat dilakukannya.

Selama masa kehamilan, dr. Diana juga berjuang mengatasi efek hormonial. Beliau menuturkan, begitu banyak gangguan kesehatan yang dialaminya. Diana mengalami flek atau semacam pendarahan pada rahim. Jika tidak dijaga, amat rentan keguguran. Asam lambungnya juga kerap meningkat hingga ke tenggorok. Tak urung Diana kerap batuk. Tekanan darahnya juga naik. Begitu pula penimbunan cairan tubuhnya. Juga gatal-gatal hebat di tubuhnya.

''Pokoknya, saya mengalami gangguan yang jarang dialami wanita saat hamil. Mungkin karena faktor usia,'' ungkap wanita campuran Pasuruan-Pekalongan itu. Dia bersyukur karena tidak sempat ngidam macam-macam. ''Cuma pengin rujak sama es serut aja. Nggak ngidam aneh-aneh,'' imbuhnya. Alhamdulillah, semua keluhan selama masa kehamilan tersebut hilang setelah melahirkan.

Koalisi Permanen karena Cinta
Diana begitu takjub sekaligus merasa bersyukur bisa dikaruniai dua anak lagi. Hidayat dan Diana menikah pada 10 Mei 2008 lalu. Sebelumnya, pasangan Hidayat-Diana sudah memiliki lima anak. Hidayat memiliki empat anak dari perkawinan pertama. Diana mempunyai satu anak dari perkawinan pertamanya juga. Karena itu, begitu tahu dirinya positif hamil ketika Idul Fitri 2008 lalu, Diana begitu terkejut. ''Saya dan Bapak (Hidayat, Red) terkejut. Lalu, kami sujud syukur,'' ujarnya.

Dari tujuh anak yang mereka miliki sekarang, setiap anak memiliki level aktivitas yang berbeda-beda. Hidayat-Diana harus pintar-pintar memanaje waktu dan rumah tangga untuk menyikapi perbedaan tersebut. Mereka mengaku bahwa semua masih dalam proses adaptasi. “Kami selalu berdoa semoga diberikan keberkahan rezeki, keberkahan waktu agar bisa digunakan semaksimal mungkin,” ujar Diana.

Mengenai ramainya pembicaraan koalisi antarpartai yang kini terjadi, Hidayat berkelakar, “Lebih baik koalisi yang ini, karena ini koalisi permanen. Tidak akan terpisah karena landasannya adalah cinta.”

(Indah, dari berbagai sumber)
Sumber:eramuslim.com

Senin, 18 Mei 2009

Membaca Langkah 'Membingungkan' PKS Akhir-akhir ini



by ADMIN
---
“…wa amruhum syuro bainahum. Faidza azamta fatawakkal allallah..”

Beberapa hari dalam pekan ini media massa menyoroti hiruk pikuk arah koalisi parpol dalam pilpres yang akan digelar 8 Juli 2009. PKS sebagai partai nomor empat dengan perolehan suara 7,88 % melalui Musyawarah Majlis Syuro (MMS) XI 25-26 April 2009 telah memutuskan berkoalisi dengan SBY Demokrat. Namun, pemilihan Boediono (Gubernur Bank Indonesia) sebagai cawapres SBY yang diputuskan sepihak (tanpa melibatkan partai koalisi) telah menimbulkan arus pro-kontra yang hebat. PKS mempermasahlan dua poin: pertama, tidak dilibatkannya partai mitra koalisi dalam pengambilan keputusan yang penting (pemilihan cawapres). Kedua, pola komunikasi yang searah dan terkesan arogan dari pihak SBY dan Partai Demokrat .

Melalui pertemuan-pertemuan maraton antara PKS dan kubu SBY akhirnya PKS memutuskan untuk tetap melanjutkan koalisi dan mendukung pasangan SBY-Boediono. Mencermati arah koalisi PKS yang akhirnya mantab mendukung duet SBY Berbudi (slogan pasangan SBY-Boediono) ada beberapa catatan ‘versi pribadi’ yang bisa saya kemukakan:

PERTAMA: PKS tidak akan sembrono, ngawur, serampangan dalam membuat sebuah keputusan yang amat sangat penting menyangkut nasib bangsa lima tahun kedepan. Oleh karenanya, sebelum akhirnya memutuskan berkoalisi dengan SBY-Boediono, PKS (melalui para qiyadahnya) berupaya mengumpulkan informasi yang lengkap, komprehensif, valid dan aktual dari sumber pertama. Itu yang kita baca dari pertemuan intensif antara PKS dengan tiga utusan SBY (Hadi Utomo Ketum PD, Hatta Rajasa orang kepercayaan SBY, dan Sudi Silahi sekretaris kabinet) yang berlangsung Kamis malam (14/5). Tidak cukup data dari 3 utusan, PKS yang diwakili Hilmi Aminuddin Ketua Majlis Syuro, Tifatul Sembirng Presiden PKS dan Anis Matta Sekjen PKS bertemu langsung dengan SBY dan Boediono selama dua jam sebelum deklarasi SBY-Boediono.

Langkah qiyadah PKS ini yang membedakan dengan kita-kita. Kalau para qiyadah akan menimbang segala sesuatu dengan matang, rasional dan komprehensif, kalau kita kadang (atau sering) hanya emosional dan parsial dalam ‘melihat’ permasalahan.

Jauh sebelum memasuki Pemilu 2009, Anis Matta sang idiolog PKS sudah membingkai cara berfikir kita tentang Syuro dan kaedah-kaedahnya. Keputusan yang baik adalah keputusan yang lahir dari syuro.Jika kita berbicara tentang bagaimana menghasilkan sebuah keputusan syuro yang bermutu, sesungguhnya kita berbicara tentang bagaimana mengoptimalkan syuro, tegas Anis Matta. Syuro akan optimal dan menghasilkan keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan apabila:

Pertama, tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sumber-sumber informasi itu dapat berupa sumber intelijen, pelaku peristiwa, pengamat atau pakar suatu masalah. Fakta yang akurat disertai analisis yang tepat akan memudahkan kita menyusun rencana keputusan, baik dengan pendekatan syariat maupun pendekatan dakwah. Jadi, informasi yang akurat berkorelasi positif dan kuat dengan keputusan yang tepat. Kaidah ushul fiqh mengatakan, hukum yang kita berlakukan atas sesuatu merupakan bagian dari persepsi kita tentang sesuatu itu.

Kedua, tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang relatif yang harus dimiliki setiap peserta syuro. Karena, kedalaman itulah yang menentukan mutu analisis, pikiran, dan gagasan yang diutarakan oleh setiap peserta syuro. Itulah sebabnya para ulama menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu syarat pada mereka yang akan diangkat menjadi anggota syuro. Sebab, itulah yang menjadikan seseorang menjadi layak untuk dimintai pendapat dalam berbagai masalah.
Selain kedalaman ilmu pengetahuan, ada faktor lain yang terkait dengan syarat ilmu.Yaitu, dominasi akal atas emosi (rajahatul ‘aql) serta sikap rasional yang konsisten. Faktor ini sangat menentukan karena inilah yang menjamin bahwa sikap-sikap emosional dan temperamental yang sebagian besarnya kontraproduktif tidak akan terjadi dalam syuro. Selama syuro merupakan proses ijtihad jama’i, maka syarat kedalaman ilmu pengetahuan merupakan keniscayaan yang menentukan mutu hasil syuro.

Ketiga, adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro terkelola dengan baik. Dan pendapat-pendapat itu secara intens mengalami seleksi, penyaringan, serta integrasi yang ilmiah. Kemudian melahirkan sebuah keputusan bermutu. Keragaman yang terkelola dengan cara seperti itu niscaya akan melahirkan pikiran-pikiran baru yang biasanya sulit dibayangkan dapat lahir dari seorang individu.

Demikian urai Anis Matta dalam bukunya 'Menikmati Demokrasi'.

KEDUA: PKS dengan manuver (sebelumnya) ‘mempermasalahkan’ pemilihan Boediono sebagai cawapres SBY dimaknai sebagai upaya PKS untuk membenahi dan meluruskan ‘etika berkoalisi’ yang mulai diselewengkan oleh pihak Demokrat. Bahwa sebuah tujuan bersama tidak akan tercapai tanpa kerjasama, dan kerjasama tidak akan terwujud tanpa kesadaran bersama, dan kesadaran bersama mustahil ada manakala tidak ada tradisi syuro dalam mengambil sebuah kebijakan yang menyangkut ‘hajat hidup bangsa’.

PKS ingin menyadarkan SBY dan Demokrat bahwa koalisi bukan dibangun atas dasar bagi-bagi kursi, tapi koalisi yang solid bisa terwujud manakala ada kebersamaan. Kebersamaan dalam merancang, kebersamaan dalam melangkah dan kebersamaan dalam mempertanggungjawabkan hasil. Tidak ada yang bisa jalan sendiri. Pemimpin koalisi memang SBY dan Demokrat, tapi partai mitra koalisi tidak boleh diperlakukan seperti pelayan yang hanya sendiko dawuh tanpa dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Maka sebelum koalisi berjalan lima tahun kedepan, persoalan ‘dasar’ ini harus disadari bersama dan berkomitmen untuk berpegang teguh dengan prinsip-prinsip syuro dalam koalisi.

Melalui pertemuan ustadz Hilmi dengan SBY sebelum deklarasi di Hotel Sheraton, Bandung, SBY (dan PKS) sepakat mendasarkan koalisi pada prinsip kebersamaan dan kesetaraan, dengan komunikasi yang positif dan konstruktif.

KETIGA: PKS menyadari bahwa kekuatannya saat ini bukan sebagai leader. Namun, dukungan rakyat 7,88 % hasil 'jihad siyasi' segenap kader dan simpatisan PKS seluruh pelosok tanah air dan luar negeri tidak boleh 'disia-siakan'. Suara 7,88 % ini harus dioptimalkan untuk menebar kemaslahatan di bumi pertiwi ini dengan masuk menjadi bagian kekuasaan dan terlibat dalam perumusan dan pengambilan kebijakan yang pro-rakyat. Tidak selayaknya PKS menyia-nyiakan potensinya hanya untuk sekedar ‘pandai berteriak’ mempermasalahkan masalah (maksudnya jadi oposisi). Mempermasalahkan masalah itu mudah dan pekerjaan orang kalah, tapi yang lebih penting adalah peran untuk menawarkan solusi atas masalah bangsa yang ada. Dan rakyat (baca umat) membutuhkan uluran tangan para kader-kader PKS untuk mengentaskan problematika mereka.

Ketika Nabi saw baru datang ke kota Madinah, beliau langsung memberikan arahan solusi dengan sabdanya… “Wahai manusia, sebarkanlah salam, hubungkan silaturahim, berikan makanan, dan shalat malamlah ketika orang-orang sama tidur. Itu semua akan memasukkan kalian ke dalam sorga dengan selamat”. (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Turmudzi).

Dalam pertemuan PKS dengan SBY sebelum deklarasi telah disepakati dan ditandatangani Kontrak Politik berupa 10 agenda prioritas pembangunan berasas kedaulatan negara dan berorientasi kemakmuran rakyat.

Oleh karenanya, sebagai kader jadilah kita part of solution bukan part of problem. Slogan ‘Al Islam huwal hal’ (Islam adalah solusi) saatnya untuk kita implemestasikan dalam dunia nyata ruang-ruang publik. Tidak sekedar enak didengar, lantang disuarakan.

Terakhir, ketika pimpinan tertinggi PKS sudah membuat sebuah keputusan maka riak-riak perbedaan kita tutup rapat dalam buku memori kita. Saatnya beramal bukan berdebat!

“Waquli’maluu fasayarallahu amalakum warasuluhu wal mu’minunn…”

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. [at-taubah 105]

Jogjakarta, 16 Mei 2009

Alfaqir ila robbihi
Sumber:pkspiyungan.blogspot.com

Jumat, 15 Mei 2009

SBY Tak Seperti Dulu Lagi?


Susilo Bambang Yudhoyono. Itulah nama yang selalu menjadi perhatian bangsa kita saat ini. Apalagi sebagian besar bangsa Indonesia kini masih menunggu siapa yang akan diumumkan sebagai pendampingnya dalam Pilpres 2009 ini.

SBY dulu kita kenal sebagai sosok yang ramah, santun, dan penuh kehati-hatian. Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia sangat mengidolakan sosok Presiden RI ke-6 ini. Seorang jenderal yang juga memegang gelar doktor.

Namun, sejak keluarnya hasil quick count hasil pemilu dari berbagai lembaga survei yang menyatakan Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu Legislatif, terjadi perubahan besar pada sikapnya.

Orang yang dulu sangat ramah kini terkesan jadi sangat kelewat percaya diri dengan kemampuan partainya untuk memenangkan Pemilu Presiden 2009 ini. Hal ini sudah terlihat pada saat penampilan beliau pertama kali di media masa untuk mengomentari perolehan suara Partai Demokrat dalam Pileg 2009.

Tak ayal lagi, parpol-parpol yang sudah menyatakan dukungannya sejak awal mulai berpikir ulang tentang rencana koalisi untuk Pilpres 2009. Saat ini tinggal PKB yang masih menyatakan akan meneruskan koalisi tersebut. PAN, yang mesti akhirnya mendukung SBY kemungkinan besar juga akan menarik dukungannya.

Moh Sofan, peneliti politik dari Yayasan Paramadina bahkan mengatakan sikap SBY itu merupakan tamparan politik di muka Amien Rais, yang selama ini menggadang-gadang dukungan PAN kepada SBY. Apa boleh buat, keputusan SBY untuk tetap mengambil Boediono sebagai cawapres membuat pak Amin menarik dukungannya kepada

SBY.
Namun, meski sejumlah parpol ber rencana akan meninggalkan Demokrat dalam pilpres mendatang, partai pendukung SBY itu tidak sedikit pun dibuat gentar. Sebaliknya, Demokrat malah menjadi semakin pede untuk tetap mengusung SBY-Boediono.

Demokrat bahkan merasa dengan mengusung pasangan itu masih yakin tetap menang. Syarifudin Hasan mengatakan, “Kan perolehan suara Demokrat cukup. Jadi kalau Demokrat sendirian pun masih cukup untuk mengusung SBY, dan masih dapat memenangkan Pilpres2009.”

Jika kita simak ucapannya, secara sekilas mungkin tidak masalah. Namun kalau kita telaah lebih jauh, ini merupakan ungkapan yang sangat arogan dari seorang Ketua DPP PD.

Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang cepat dan tegas dalam mengambil keputusan dan berani melakukan terobosan-terobosan dalam memperbaiki bangsa ini ke depan. Juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, berakhlak baik, antikorupsi, sopan, santun, dan ramah. Jadi, tidaklah bijak kalau SBY menanggalkan hal ini semua.


Hamzah Etnur
hamzah128@gmail.com
sumber:inilah.com

Rabu, 29 April 2009

Mengapa Takut pada PKS ?


Wanandi: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.”
Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sebuah acara talk show di stasiun televisi berlangsung seru pasca Pemilu yang baru berlalu di Indonesia. Para pembicara berasal dari partai-partai besar peraih suara terbanyak: Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat yang tampil sebagai pemenang pemilu, Sumarsono (Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya yang sempat shock karena tergeser ke ranking kedua), dan Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang menempuh jalan oposisi). Narasumber keempat adalah seorang anak muda, doktor bidang teknik industry lulusan Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Mohammad Sohibul Iman, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Usai debat panas, Kumolo mendekati Iman dan berbisik: “Mas, bagaimana sikap teman-teman PKS terhadap PDIP? Posisi Hidayat Nur Wahid cukup berpengaruh di kalangan PDIP, dia menempati ranking kedua untuk mendampingi Ibu Mega.” Perbincangan intim itu tak pernah dilansir media manapun, meski publik mencatat Hidayat pernah diundang khusus dalam acara rapat kerja yang dihadiri pengurus dan kader PDIP se-Indonesia. Dua pekan setelah Pemilu, DPD PDIP Sulawesi Utara, yang berpenduduk mayoritas non-Muslim masih mengusulkan lima calon wakil presiden yang layak mendampingi Mega, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid dan Surya Paloh (Republika, 21/4). Itu bukti kedekatan partai nasionalis sekuler dengan Islam, lalu mengapa selepas pemilu yang aman dan lancar, tersebar rumor sistematik bahwa partai Islam radikal (PKS) menjadi ancaman keutuhan nasional Indonesia?

Partai Demokrat dan PKS sekali lagi membuat kejutan. Dalam Pemilu 2004, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina itu, hanya menempati urutan kelima dengan perolehan suara 7,5%. Sekarang mereka menempati tempat teratas dengan raihan suara lebih dari 20,6% menurut perhitungan suara sementara. Sementara PKS yang menempati ranking keenam pada Pemilu 2004 dengan suara 7,3% memang tak bertambah secara drastis, diperkirakan hanya meraih 8,2% suara, menurut tabulasi sementara Komisi Pemilihan Umum. Tapi, PKS dengan posisi keempat dalam pentas nasional menjadi Partai Islam terbesar di Indonesia. Inilah yang menjadi sumber kontroversi bagi sebagian pengamat Barat.

Bila kemenangan Partai Demokrat disambut meriah oleh media Barat, sehingga majalah Time berencana untuk memasukkan sosok SBY sebagai satu di antara 100 tokoh berpengaruh di dunia, maka kemunculan PKS dinilai negatif oleh penulis semisal Sadanand Dhume. Dalam Wall Street Journal Asia (15/4), Dhume menyatakan: “The most dramatic example of political Islam’s diminished appeal is the tepid performance of the Prosperous Justice Party (PKS), Indonesia’s version of the Muslim Brotherhood. PKS seeks to order society and the state according to the medieval precepts enshrined in shariah law.” Pandangan serupa diungkapkan Sara Webb dan Sunanda Creagh yang mengutip kekhawatiran pengusaha keturunan Cina, Sofjan Wanandi dan pengamat beraliran Muslim liberal, Muhammad Guntur Romli (Reuters, 26/4).

Wanandi, pengusaha sekaligus pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), berkata terus terang: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.” Sedangkan, Romli menegaskan: “PKS have a conservative ideology but are portraying themselves as open and moderate because they are also pragmatic.” Kesangsian Wanandi dan Romli justru menimbulkan pertanyaan, karena mereka mungkin sudah membaca Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan yang dikeluarkan PKS setahun sebelum penyelenggaraan pemilu. Buku setebal 650 halaman itu menjelaskan segala langkah yang sudah, sedang dan akan dilakukan PKS untuk mewujudkan masyarakat madani yang maju dan sejahtera di Indonesia. Tak ada sedikitpun disebut ide Negara teokratis atau diskriminasi terhadap kaum minoritas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyediakan waktu khusus untuk menyimak platform PKS setebal 4,5 centimeter itu dan berkomentar, “Isinya cukup komprehensif seperti Garis-garis Besar Haluan Negara atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disusun pemerintah meliputi seluruh aspek kehidupan Negara modern.” Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menilai inisiatif PKS merupakan tradisi baru dalam dunia politik agar setiap partai menjelaskan agendanya ke hadapan publik secara transparan dan bertanggung-jawab. Sementara Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri, memberikan apresiasi khusus karena PKS berani melakukan obyektivikasi terhadap nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Siapa yang harus kita percaya saat ini, pengusaha dan pengamat yang gelisah karena kepentingan pribadinya mungkin terhambat atau menteri dan pakar yang menginginkan perbaikan dalam kualitas pemerintahan di masa datang?

Kehadiran partai Islam memang kerap memancing perhatian, tak hanya di Indonesia. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki yang secara harfiyah menyebut diri berideologi sekuler ternyata masih dicap sebagai kelanjutan dari partai fundamentalis Islam. Gerakan Hamas yang secara patriotik membuktikan diri berjuang sepenuhnya untuk kemerdekaaan nasional Palestina disalahpersepsikan sebagai ancaman perdamaian dunia. Perhatian publik semakin kritis setelah partai Islam berhasil memenangkan pemilu yang demokratis, dan berpeluang menjalankan pemerintahan. Stereotipe buruk kemudian disebarkan untuk menggambarkan partai Islam seperti virus flu yang berbahaya, dengan merujuk pengalaman di Aljazair, Sudan atau Pakistan.

Tapi, semua insinuasi itu tak berlaku di Indonesia karena partai Islam dan organisasi sosial-politik Islam yang lebih luas telah berurat-akar dalam sejarah dan memberi kontribusi kongkrit dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hanya orang bodoh yang tak tahu bahwa: organisasi modern yang pertama lahir di Indonesia adalah Serikat Dagang Islam (1905), partai politik yang pertama berdiri dan bersikap nonkooperasi terhadap penjajah Belanda adalah Syarikat Islam (1911), organisasi pemuda yang mendorong pertemuan lintas etnik dan daerah ialah Jong Islamienten Bond hingga terselenggaranya Sumpah Pemuda (1928), mayoritas perumus konstitusi dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (1945) adalah tokoh Islam, dan penyelamat Negara kesatuan Indonesia dari ancaman komunisme (1966) adalah organisasi pemuda dan mahasiswa Muslim nasionalis. Kekuatan Islam juga sangat berperan dalam mengusung gerakan reformasi di tahun 1998, tanpa meremehkan peran kelompok agama/ideologi lain.

Tak ada yang perlu ditakuti dari kiprah Partai Islam di masa lalu dan masa akan datang, termasuk dalam membentuk pemerintahan baru di Indonesia. Partai Islam memiliki agenda yang jelas untuk memberantas korupsi melalui reformasi birokrasi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, sehingga semangat “jihad” yang sering disalahtafsirkan itu, dalam konteks Indonesia modern bisa bermakna: perang melawan korupsi, kemiskinan dan pengangguran. Jika ada kelompok yang takut atau memusuhi Partai Islam, maka perlu diselidiki apakah mereka memiliki komitmen yang sama untuk membasmi korupsi, kemiskinan dan pengangguran? Membatasi, apalagi mengisolasi Partai Islam, hanya akan menambah panjang persoalan yang berkecamuk di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Partai Islam tak hanya mampu meraih dukungan yang cukup luas dalam pemilu, bahkan tokoh-tokohnya yang berusia relatif muda mulai mendapat kepercayaan pemilih. Exit poll yang digelar Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada tanggal 9 April menunjukkan bahwa pasangan Yudhoyono-Hidayat meraih suara 20,8 persen, mengungguli Yudhoyono-Jusuf Kalla yang meraih 16,3 persen, dan Yudhoyono-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan responden. Jika fakta elektabilitas yang tinggi ini masih diingkari, maka kecurigaan terhadap Partai Islam sungguh tak berdasar dan melawan kehendak rakyat yang menjadi inti demokrasi.

*) Center for Indonesian Reform (CIR), Gedung PP Plaza Lantai 3, Jalan TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur Email: sapto.waluyo@gmail.com
sumber: eramuslim.com

Minggu, 12 April 2009

Pemilu 2009 di Wanajaya

Pemilu di Desa Wanajaya berlangsung aman dan Lancar. Walaupun ada sedikit masalah namun itu tak mengurangi animo masyarakat untuk mensukseskan Hajatan Nasional yang diselenggarakan tiap 5 tahun sekali yaitu Pemilu 2009. Dalam pemilu 2009 di wilayah desa Wanajaya di bagi terdiri atas 45 TPS yang tersebar disejumlah titik perumahan maupun perkampungan, diantaranya Perumahan Villa Mutiara Jaya, Perumahan Pesona Gading, Perumahan Kirana, Perumahan Alam Pesona, Rawa Lele dan Lain-lain. Tiap KPPS mendesain TPS sesuai dengan kreasi dan antusias yang beraneka ragam. Bahkan di Wilayah RW 011 yang terletak di halaman Masjid Miftahul Jannah terdapat 5 TPS yaitu TPS 6, 7, 8, 9, 10. Suasana di TPS laksana acara kenduri. Bahkan tak ketinggalan para peadagang turut hadir memeriahkan moment 5 tahunan tersebut.

Saya pun berkesempatan untuk menyambangi lokasi TPS terjauh yaitu TPS 43, 44, dan 45 yang berlokasi di kampung Rawa Lele. Jalan menuju lokasi tersebut luar biasa menantang. Bagian Kiri kanan jalan dihiasi lobang dan genangan lumpur. Namun itu semua tak menghalangi kami untuk menjadi saksi antusiasnya masyarakat Rawa Lele wanajaya untuk memilih wakil-wakilnya yang akan mewakili mereka di DPR.

Sumber penghidupan masyatakat sekitar rata-rata dari Bertani. Hal itu terlihat dari masih luasnya lahan pertanian disepanjang jalan yang kami lalui dan aktifitas masyarakat di sekitar penggilingan padi yang lokasinya berdekatan dengan TPS 45.

Walaupun tercium aroma money politik di beberapa titik TPS yang berasal dari beberapa partai politik menghiasi Pemilu kali ini, namun alhamdulillah PKS masih memimpin perolehan suara di Wanajaya disusul oleh Partai Demokrat yang menempel ketat di posisi ke 2.

Anda bisa lihat pada foto dibawah ini, semua TPS di Wanajaya yang sempat saya abadikan.
(say_dee).









Pak, kalau PKS nomor berapa ?


Sabtu, 11 April 2009 07:03
Ada suatu hal yang cukup membuat gembira hati ini, ketika menjadi saksi dari PKS di TPS San Francisco Amerika. Menjadi saksi adalah pekerjaan yang cukup melelahkan. Saksi harus full time mengawasi jalannya pemilu di TPS yang menjadi tanggung jawabnya. PKS Amerika dan Kanada mengerahkan kader-kader terbaiknya untuk ditempatkan di 9 TPS di Amerika dan Kanada.

PKS adalah satu-satunya partai politik di Amerika yang menyebarkan kader-kadernya untuk turut membantu secara langsung kelancaran dan kesuksesan PEMILU 2009 ini. Chicago, Washinton DC, Houston, Los Angeles, New York, Ottawa-Kanada, San Francisco, Toronto-Kanada dan VanCouver-Kanada adalah kota-kota besar yang diserbu oleh saksi PKS. Tanggal 9 April, Kamis adalah hari kerja yang mengharuskan mereka untuk mengambil cuti kerja demi tugas yang mulia ini.

Menjadi saksi adalah suatu kesempatan langka yang tidak sembarang orang akan merasakannya. Kenikmatan tersendiri ketika dapat bersinggungan dengan pemilih-pemilih yang tidak kita ketahui dalam kondisi kampanye. Baik pemilih partai lain atau pun pemilih PKS itu sendiri. Sebagai manusia biasa adalah maklum, ketika melakukan penghitungan suara yang muncul adalah dari partai yang lain. Akan tetapi sungguh kekecewaan itu akan hilang, manakala ada satu suara sekalipun yang memilih partai nomor delapan, yaitu PKS. Sungguh satu suara itu tidak akan ada bandingannya dengan berpuluh-puluh suara yang terakumulasi di salah satu partai. Masih ada orang yang memperhatikan partai dakwah ini adalah suatu bentuk kesayangan Allah kepada partai dakwah ini, walaupun itu adalah satu suara sekalipun. Konyol memang, tapi dari peristiwa ini kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh Rasulullah, Nuh alaihisalam. 950 tahun berdakwah, hanya mendapatkan segelintir pemilih. Bisa jadi Nabi Nuh saat itu juga bersyukur luar biasa dengan jejak langkahnya yang masih ditapaki oleh segelintir ummat terbaiknya saat itu.

Ada satu pengalaman yang menarik yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini. Pengalaman menarik yang akan menghilangkan rasa kecewa dan lelah saat-saat menghitung hasil suara di TPS.

Seorang nenek sendirian dengan kerudung putihnya memasuki ruangan TPS San Francisco. Kelihatan wajahnya yang tua dan badannya yang kurus, menandakan kalau usia sudah diatas sekitar 70 tahunan. Jaket tebal yang basah oleh air, menyadarkan aku akan udara San Francisco saat itu, dingan dan hujan rintik-rintik. Udara San Francisco yang mirip puncak di malam hari, memang terasa dingin bagi orang Indonesia yang terbiasa hidup dengan udara tropis.
Nenek yang tidak ku kenal ini kemudian memperlihatkan pasport yang masih berlakuuntuk menunjukkan bahwa dia adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih. Setelah diskusi dengan petugas TPS, maka aku nyatakan bahwa memang nenek ini mempunyai hak pilih dalam pemilu kali ini, dan perlu mendapatkan surat suara.

Tersirat rasa gembira di wajah nenek ini setelah yakin bahwa dia dapat memilih di TPS San Francisco. Aku lanjutkan pekerjaanku, sibuk melihat para pemilih lain yang ingin mendapatkan surat suara. Tiba-tiba, nenek yang duduk tadi itu bertanya kepada salah seorang petugas TPS,"Pak, kalau PKS nomor berapa ?". Pertanyaan itu memudarkan konsentrasiku melihat email-email yang masuk di Lenovo X61s, notebook kesayanganku. Nenek yang sudah lanjut ini mungkin sudah lupa dengan wajahku, dan aku pun benar-benar lupa dengan wajah nenek ini. Pertanyaan ini membuat pikiran yang cukup terekam kuat di ingatanku. Siapa gerangan nenek ini ? Memoriku pun aku aduk-aduk mencari secercah ingatan yang mungkin masih ada. Akan tetapi tidak juga kutemukan memori tentang nenek ini dalam ingatanku.

Ketika sampai di rumah, peristiwa ini aku sampaikan kepada satu-satunya istriku tercinta, plus tercantik. "Mi, ada seorang nenek yang datang di TPS, abi yakin dia memilih PKS karena sebelum memilih minta dikasih tahu nomor berapa PKS itu, tapi sayang abi tidak tahu....siapa gerangan nenek itu...dan sudah tentu tidak bisa bercakap-cakap dengan kesibukan di TPS waktu itu...siapa ya ...". Istri ku pun tidak bisa menjawabnya, karena memang memori yang terekam kuat di ingatanku hanyalah, sedikit ciri wajah dan postur badan nenek itu.

Ada seorang teman yang memberitahukan bahwa photoku terpampang di detik.com. Cepat-cepat aku lihat photo itu. Alhamdulilah !!, batinku. Nenek tua itu ada di salah satu photo itu!!! Aku perlihatkan kepada istriku. "Mi, nenek yang abi ceritakan kemarin ada di detik.com!!" Aku perlihatkan link photo itu lewat Yahoo Messanger, salah satu software penyambung komunikasi rumah dan kantor.
Istriku memberitahu bahwa nenek itu adalah yang dulu datang ke San Francisco airport bersama dengan Ibu mertua. Yang dulu kita temani sebentar di air port, karena anaknya belum datang untuk menjemputnya. Waktu menemani yang terasa pendek waktu itu dengan obrolan ringan, sedikit membuka memori lamaku. Kecemasan nenek itu ketika menunggu anaknya yang akan menjemputnya kembali teringat dalam memoriku.
Tidak disangka, nenek waktu itu adalah PKSer!!!

Subhanallah !!! Aku tahu jarak tempat tinggal nenek itu, kota Oakland, tidaklah dekat untuk menuju TPS San Francisco. Kota Oakland dan kota San Francisco dipisahkan oleh jembatan besar dan panjang, yaitu jembatan BayBridge. Dan Akses sampai ke tempat TPS pun tidak mudah, walau pun dengan kendaraan pribadi sekalipun. Luar biasa nenek ini, batinku. Ingin rasanya semangat suara hati ini aku suarakan kepada teman-temanku di tanah air, tapi apa daya suara tak sampai. Aku tuliskan sepenggal puisi semangat perjuangan, semoga puisi ini sampai di hati teman-teman di Indonesia.

Wahai pengemban amanah keabaikan!
Masihkah engkau ragu dalam langkah ini ?
Wahai pengemban amanah keadilan!
Masihkah engkau beritirahat dalam derapan barisan ini ?
Wahai pengemban amanat kesejahteraan !
Masihkah engkau menikmati rihlah di waktu-waktumu yang senggang ?

Lihatlah di sini, di bumi San Francisco !!!
Seorang nenek PKSer yang berjalan demi hanya satu suara, yang mungkin tidak akan dia nikmati hasilnya kelak selama hidupnya....
Berjuang dalam terpaan rintik hujan dan rasa dingin yang menusuk ....
Menuju TPS San Francisco hanya demi keinginan untuk hidup lebih baik bagi anak cucunya nanti ...
Masihkah diri ini harus menatap pesimis dengan hasil dakwah ini ?
Sedangkan masih ada seorang nenek yang tidak kita kenal, ikhlas dan jujur mendukung kekuatan dakwah ini.

Dalam hatiku timbul suatu keyakinan, harapan itu akan masih tetap ada, manakala orang-orang yang ikhlas seperti nenek ini, mendukung dan bersama-sama dengan pejuang-pejuang militan keadilan. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu masih tetap ada.
penulis : Muhammad Yusuf Efendi
sumber:warnaislam.com

Sabtu, 11 April 2009

PKS Kuasai Asia Tengah

Cuaca sangat cerah dengan lagit biru tanpa awan ketika Pemilu pada pagi 9 April 2009 di dilaksanakan di KBRI Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan.

Ada 4 negara di Asia Tengah yang berada di bawah akreditasi KBRI Tashkent yaitu Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgystan, dan Tajikistan yang merupakan negara-negara pecahan Uni Soviet yang telah merdeka sejak 1991.

Jumlah penduduk Uzbekistan sekitar 27 Juta jiwa, Kazahstan 2.5 juta jiwa, Kyrgystan 2 juta jiwa, dan Tajikistan 2.5 juta jiwa. Potensi ekonomi wilayah ini cukup tinggi karena kaya gas alam, produk cotton dan lain-lain.

Menurut Fauzy Ammari (WGTT), lokasi pemilu langsung berada di Tashkent sebagai ibukota Uzbekistan denagan jumlah WNI 61 orang termasuk keturunan Uzbek yang memilih menjadi WNI, 20 orang di Kazakhstan, dan 7 orang Kyrgystan. WNI pekerja profesional ada 27 orang dan mahasiswa ada 2 orang.

Peralatan pemilu termasuk kotak penampung surat suara dibuat sendiri mengikuti arahan KPU pusat. Pelaksanaan pemilu dimulai pada pukul 9 sampe 12:00, pencontrengan di halaman gedung KBRI diawali oleh Dubes KBRI Tashkent, Bp. Syahril Sabaruddin kemudian dilanjutkan oleh pemilih lainnya, dan berakhir pada pukul 12:00. Kemudian penghitungan suara baru dilakukan pada pukul 12:15.

Dari hasil perhitungan langsung (bukan yang lewat pos), PKS menduduki tempat teratas dengan perolehan 16 suara (34%), PD 7 suara (15%), Golkar, PDS, Gerindra masing-masing 4 suara (8.5%) dan sisanya dimenangkan oleh partai lainnya. Hanya satu surat suara yang dinyatakan tidak sah. Para peserta pemilu bersama keluarga juga mendapat suguhan nasi uduk dan kue-kue Indonesia yang sudah terhidang rapi sebelum acara pemilu dimulai.


Zamkofa Anwar, zamkofa@gmail.com
sumber:inilah.com