Selasa, 16 Desember 2008

Gelombang PKS



oleh : bibit raharjo

Pada kampanye Pemilu 2004, massa PKS selalu merebut simpati masyarakat karena sering tampil tertib dan santun. Mereka juga mempunyai ‘pasukan semut’ yang bertugas membersihkan sampah dari lokasi bekas kampanye. Beda dengan sejumlah massa partai lain yang acap tampil menakutkan ketika menggelar kampanye.

Dibandingkan dengan partai-partai lain, langkah PKS memang selalu mencuri perhatian dan sering menjadi sorotan. Berbagai praktik politik yang “baik dan benar” sering dikagumi, namun bahkan juga selalu ditakuti. Budaya “uang pelicin” yang kerap hilir mudik di gedung parlemen justru oleh dewan PKS selalu dilaporkan ke KPK. Maka tak aneh ketika hasil survey Litbang Kompas menempatkan PKS sebagai partai yang paling bersih. Meskipun Indonesia menempati rangking ke-2 dalam bidang korupsi di Asia, namun Alhamdulillah dewan PKS tak ada yang terkena kasus korupsi.

Kekaguman orang kian berlanjut, ketika para anggota dewan dari sejumlah partai banyak terlibat dalam skandal korupsi dan skandal seks, justru para anggota dewan dari PKS malah menjadi pemegang rekor pengembalian uang suap dan uang gratifikasi. Tak tanggung-tanggung, tercatat di KPK uang yang telah dikembalikan anggota F-PKS DPR-RI mencapai lebih dari 1,9 Milyar. Bahkan di sejumlah daerah praktik “bersih” dewan PKS juga terjadi. Belum lama ini, di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur yang memiliki 43 orang anggota DPRD, 40 orang di antaranya diseret ke pengadilan karena kasus korupsi. Hanya 3 orang saja yang tidak terlibat. Mereka adalah anggota Fraksi PKS. Subhanallah!

Di awal 2008, ketika PKS melakukan komunikasi politik berkenaan 100 Tahun Kebangkitan Indonesia dengan satu slogan “Bangkit Negeriku Harapan Itu Masih Ada”, kembali PKS telah membangkitkan optimisme bangsa ini untuk dapat keluar dari kubangan yang ada. Pesannya adalah agar bangsa ini memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk perubahan yang lebih baik. Sebagaimana Umar bin Khatab katakan, “setiap kali saya meng-hadapi masalah-masalah besar yang aku panggil adalah anak muda”.

Lebih lanjut Ust. Zainal Muttaqien, Lc. dalam taujihnya di DPRa Wanasari menjelaskan bahwa di dalam kitab Muhammad Rasyid dikatakan, kalau engkau tidak pernah disibukkan dengan sesuatu yang besar, maka engkau akan disibukkan dengan sesuatu yang kecil. Maka ketika kita tidak punya daya analisa, tidak bisa membaca diri, membaca keluarga dan membaca lingkungan, di mana kemaksiatan sudah sangat terorganisir, maka akibatnya negeri ini centang perentang, tidak tahu arah dan tujuan. Ketika saat ini di hadapan kita jumlah partai mencapai 38, tentu mencari nomor 8 sangatlah sulit. Apalagi mencari sebuah nama CAD di 4 lembar kertas besar.

Inilah salah satu problematika kader, yaitu tidak mau membaca, kalau sudah bisa membaca kurang memahami apa tuntutan dakwah saat ini. Di benak hanya menuntut, bahwa sekarang kita sudah punya Bupati dan Ketua DPRD dari PKS. Tapi masya Allah, kemenangan dakwah itu bukan karena kita punya pemimpin. Kemenangan dakwah sesungguhnya adalah ketika seluruh masyarakat memahami dan mengamalkan Islam. Seluruh masyarakat jauh dari kemusyrikan. Bukan lantaran kita menghantarkan pemimpin dari PKS. Tidak! Kerja keras, perjuangan dan pengorbanan adalah sebuah keniscayaan jalan dakwah. Sebagaimana Ust. DR. Surahman Hidayat (Dewan Syariah Pusat) katakan dalam taujih jihadnya ketika Mukhoyyam Terpadu Daerah (MUTUDA) di Bojongmangu, “Apa yang telah kita berikan pada dakwah? Bukan, apa yang dakwah berikan kepada kita?”

Maka pilar-pilar keberanian yang harus dimiliki seorang kader, adalah;

1. Iman kepada yang Ghaib.

Ketika keimanan itu semakin besar, maka akan memotivasi keberanian dan memunculkan keikhlasan dalam setiap perjuangan. Bahwa kemenangan dakwah ini bukan materi. Bahwa menjadi caleg itu bukan sebuah kemulian, tapi amanah berat yang memang harus diemban. Kalau di partai lain, orang sangat gembira begitu dicalonkan, tapi kader di PKS ketika dicalonkan justru banyak yang sedih,resah dan gelisah karena besarnya amanah yang harus dipikul. Dan mungkin fitnah yang merintang. Ada sebuah kisah, pernah disampaikan oleh ust. Mardhani (DPP PKS) di hadapan para CAD dari Bekasi, Subang, Purwakarta dan Karawang, bahwa gedung dakwah berlantai 6 seharga 16 Milyar di jln. Simatupang Jakarta tersebut adalah sumbangan dari seorang kader dakwah. Ikhwah tersebut berpesan agar namanya dirahasiakan. Subhanallah! Para Calon Anggota Dewan PKS yang hadir saat itu sempat sampai meneteskan air mata.

2. Mampu menaklukkan rasa takut.

Artinya jangan mudah menyerah. Hilangkan perasaan kalah sebelum bertanding. Mulai hidupkan silaturrahim di antara kader, penuhi kehadiran liqa pekanan, pecahkan segala permasalahan kecil sesama kader, insya Allah permasalahan besar akan dapat dipecahkan. Yang ditakuti dari PKS bukanlah pemimpin dari PKS. Tidak! Tapi mesin politiknya, jika solid maka kemenangan tinggal dipetik. Insya Allah!

3. Sabar dalam ketaatan.

Sholahudin Al Ayubi mengatakan, siapa yang semalam tidak sholat tahajud, tidak diperkenankan ikut berjihad. Karena pilar kemenangan itu akan tegak manakala kader dakwah sering qiyamulail, untuk mencharge kembali ruhnya agar jangan sampai ‘low batt, gak ada pulsa atau gak ada sinyal’. Halaqah harus sering di mutaba’ah. Sah-sah saja ada parlemtaria dalam liqa, tapi jangan setiap halaqah isinya parlementaria terus, sehingga akhirnya manhaj tarbiyah yang diagendakan tidak jalan. Para kader yang “mangkir”, bingung dengan arah dan tujuan atau ’membelot’ dari jalan dakwah ini harus kembali di datangi dan diingatkan. Agar himpitan ekonomi dan fitnah tidak membuatnya gelisah.


4. Bercita-cita ingin mewariskan kebaikan kepada anak cucu.

Hakekatnya hidup ini adalah amanah. Kalau amanah adalah titipan, tentu setiap titipan ada pertanggung jawaban. Itulah yang disebut professional.

5. Berharap pahala dari Allah SWT.

Ketika akan menghadiri tiap pertemuan, rapat atau halaqah, perbanyak niat kebaikan. Kesungguhan kita dalam partai ini bukan untuk menggolkan satu orang. Tidak! Partai ini adalah pengusung dakwah politik. PKS hanyalah sebuah partai kecil, setetes air diantara luasnya samudra. Hanya setetes darah yang tumpah dari seluruh pahlawan peradaban dunia. PKS hanyalah setetes air mata yang pernah mengalir deras di bumi ini. Dan karena itu PKS tidak akan pernah bisa mengurus sendiri negeri ini. Oleh karena itu kita perlu mengembangkan semangat untuk menghargai ide-ide dan karya orang lain. Menyadari bahwa di samping kita bekerja, masih ada orang lain yang juga sedang bekerja. Usia kita di dunia ini tidaklah panjang, maka berikanlah kontribusi nyata dari segala potensi yang dimiliki, agar roda dakwah dan gelombang PKS yang kita usung dan cita-citakan selama ini tetap bergulir dan terus mengalir. Menegakkan nilai-nilai Islam, menumbangkan segala kezhaliman hingga pertiwi gapai sejahtera. Wallaahu a’lam. (bibit)

· Diintisarikan dari taujih Ust. Zainal Muttaqien, Lc. saat temu Kor - W dan Kader DPRa PKS Wanasari Kec. Cibitung (01/12/2008).

sumber:pkscibitung.wordpress.com

Tidak ada komentar: