Tampilkan postingan dengan label seputar Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputar Palestina. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2009

Perang di Gaza: Menghancurkan Legitimasi Israel


Richard Falks, seorang kritikus Israel dan Reporter Khusus PBB, mengatakan bahwa Israel sudah kalah dalam perang, dan hancurnya legitimasi. Apa maksudnya?

Jawabannya ada dalam demonstrasi yang terserak di seluruh dunia. Bagi semua orang, agresi berdarah Israel atas Jalur Gaza telah menghancurkan semua kehormatan bangsa Yahudi dan nama baiknya (jika masih ada). Sebagian besar aksi demonstrasi selalu membawa banner besar yang berisi kata-kata yang membandingkan Israel dengan Nazi Jerman. Pembantaian warga Gaza hanya menambahkan wajah kejahatan bagi Israel yang telah menorehkan sejarah kematian di Deir Yassin, Lebanon, dan wilayah Arab lainnya.

Ari Avnery, seorang Israel yang terus-menerus mengkritik pemerintahannya, pekan ini ia menulis, "Apa yang akan diingat oleh dunia akan peristiwa ini adalah wajah monster Israel yang haus darah. Ini niscaya akan memberikan konsekuensi jangka panjang bagi orang-orang Yahudi. Pada akhirnya, agresi ini adalah kejahatan kepada kita sendiri, kejahatan terhadap negara Israel!"

Seorang Israeli lainnya, Avi Shalim, Profesor Hubungan Internasional di Universitas Oxford mengatakan bahwa ia percaya Israel telah menjelma menjadi negara biadab. "Sebuah negara biadab selalu melawan hukum internasional, menguasai senjata penghancur massal, dan melakukan terorisme, untuk semua tujuan politis. Israel memenuhi semua kriteria ini."

Seorang rabbi Yahudi yang tinggal di Amerika, Michael Lerner, editor di majalah Tikkun, menulis, "Semua ini membuat saya patah arang. Israel benar-benar bodoh. Sebagai seorang Yahudi yang relijius, saya melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah Israel betapa begitu mudahnya mengubah nilai-nilai Judaisme menjadi pesan kebencian."

Barangkali, kecaman orang Israel terhadap Israel yang paling kejam datang dari Profesor Ilan Pappe, pengarang buku The Ethnic Cleansing of Palestine. "Zionisme adalah sebuah idelogi yang memakai pembunuhan etnik, pendudukan, dan sekarang pembantaian massal. Apa yang dihasilkan oleh Israel di Jalur Gaza bukan saja mengutuk atas apa yang dilakukan Israel tapi juga menghilangkan semua nilai ideologi Yahudi."

Zionisme, Pappe berdalih, telah diangkat menjadi sebuah 'ideologi rasis dan hegemonik. Ini, tentu saja, bukan berita baru buat orang Palestina, ataupun pada bangsa Arab dan Muslim lainnya. "Mudah-mudahan," ujar Pappe, "suara kecaman dari seluruh dunia akan mengubah Israel bahwa ideologi ini dan semua yang telah dilakukannya merupakan suatu hal yang tidak bisa lagi ditoleransi dan tak bisa diterima. Israel akan diboikot dan terjerat sanksi."

Apa yang dikatakan oleh orang-orang Israel ini menyiratkan bahwa Israel telah menderita kekalahan dalam perang legitimasi. Dengan mengubah Gaza menjadi reruntuhan, meneror dan membantai warganya, bukan saja hanya merusak citra Israel tapi juga memperlihatkan moral dan politik Israel yang rendahan.

Pertanyaannya; mengapa Israel melakukan hal ini? Israel boleh saja mengklaim mengalami trauma masa lalu yang akut, namun perbuatan mereka kali ini sangat menganggu dan amoral. Israel benar-benar gila dan terlalu berlebihan dalam menderita paranoid akan keamanan mereka.

Sejak tahun 1948, lebih tepat sejak Deklarasi Balfour Inggris tahun 1917, para pemimpin Israel selalu mempersempit Palestina, dan mereka ketakutan akan proyek mereka ini. Yang menggelikan, Israel selalu bersikap bahwa tak ada ide dua negara dalam sejarah Palestina; Israel menghendaki semua wilayah Palestina. Sebagian pemimpin Israel, seperti Itzhak Rabin, membicarakan perdamaian, namun tak ada satupun realisasinya. Siapapun partai yang berkuasa di Israel, baik Partai Buruh, Likud atau yang sekarang, Kadima, sama sekali tak ada perbedaan.

Sekarang, perang Gaza telah menenggelamkan semua harapan orang Yahudi akan adanya dua negara. Apa gerangan sekarang yang bisa menjadi alternatif? Jelas sekali, mereka ingin menimpakan semua kesalahan kepada Mesir yang tak mau membuka perbatasan Rafah. Ariel Sharon, mantan Perdana Menteri, menarik semua kaum Yahudi dari Gaza pada tahun 2008 untuk konsentrasi di Tepi Barat. Ide ini masih terus ada sekarang. Sekarang, para Yahudi Tepi Barat telah menjadi banyak dan mereka menginginkan lebih banyak lagi tanah Palestina.

Bisakan Barack Obama menghentikan kecenderungan ini? Hillary Clinton, calon Menteri Luar Negeri AS telah mengatakan bahwa visi dua negara antara Israel dan Palestina tidak begitu saja diabaikan. Kita sudah mendengar ini sebelumnya.

Tapi Hillary menegaskan bahwa AS tetap akan memberantas Hamas, dan ini menjadi kesalahan pertama pemerintahan AS yang baru yang belum lagi memulai kinerjanya. Bagaimana AS mengharapkan kombinasi dua negara dalam satu wilayah sementara AS tak mau mendengarkan satu pihak lainnya?

Patrick Seale/dah
sumber:eramuslim.com

Senin, 12 Januari 2009

Massa PKS Memadati Monas


Liputan6.com, Jakarta: Ribuan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan massa lintas agama kembali berunjuk rasa di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Ahad (11/1). Massa memprotes serangan militer Israel ke Palestina dan secara khusus meminta Pemerintah Mesir membuka pintu di perbatasan Kota Raffah agar bantuan kemanusiaan bisa tersalurkan.

Sejak pagi, simpatisan PKS telah memadati kawasan Monas sambil membawa bendera Palestina. Mereka menyanyikan lagu-lagu berisi dukungan terhadap perjuangan penduduk di Jalur Gaza. Massa lalu berjalan kaki dari Monas menyusuri Jalan M.H Thamrin. Aksi ini merupakan yang kedua kalinya digelar.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Hidayat Nur Wahid, tampak ikut serta dalam aksi tersebut. Dalam orasinya, Hidayat menceritakan tentang hasil pertemuan dengan sejumlah tokoh Arab di kawasan Timur Tengah. Pertemuan itu guna menciptakan perdamaian di Palestina.

Usai berjalan kaki, massa kembali berkumpul di Bunderan Hotel Indonesia. Pengunjuk rasa melanjutkan aksinya di lokasi tersebut. Sebagian demonstran mengatakan, meski tak efektif, setidaknya aksi ini bisa memberi dukungan secara moril bagi warga Palestina. Sebagian lain menyakini, aksi ini bisa membantu rakyat Palestina lewat dana yang mereka galang.

Sementara itu, hingga saat ini belum ada yang bisa menghentikan kemurkaan Israel di Palestina. Perintah gencatan senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tak dihiraukan negara Zionis tersebut. Sasaran tembakan mereka justru semakin brutal. Hingga hari kelimabelas, senjata militer Israel telah menewaskan 825 warga Paletina dan melukai lebih dari 3.000 lainnya.

Tak hanya warga, para jurnalis di Kota Gaza turut menjadi sasaran militer Israel. Sebuah bangunan yang digunakan sebagai basis stasiun televisi dari Arab Saudi dan Kuwait dihantam rudal. Mobil ambulans dan petugas medis yang menurut hukum perang tak boleh diserang pun tetap jadi sasaran Israel.

Saat ini, warga Palestina menyambung hidup di sejumlah tempat pengungsian. Mereka merasa tidak aman karena Israel sempat menyerang pengungsian warga. Krisis kemanusiaan di Gaza pun memburuk setelah pasokan air bersih menipis. Bantuan internasional yang sempat masuk ke Jalur Gaza terhenti karena diserang militer Israel.(IKA/Tim Liputan 6 SCTV)

Sabtu, 03 Januari 2009

Korban Gaza: Mereka Membombardir Kami Saat Sedang Bersujud


Kairo – Infopalestina: “Saat kami sedang bersujud menghadap Allah, tiba-tiba kami mendengar raungan pesawat tempur Zionis Israel yang datang dari jauh. Tidak lama kemudian pesawat-pesawat pembunuhan itu memuntahkan bom-bom ke arah kami. Semua itu terjadi dalam hitungan menit hingga masjid yang kami ada di dalamnya dihancurkan dari atas kepala-kepala kami.”

Inilah kalimat yang menuturkan kepedihan. Yang menggambarkan aksi bombardemen pesawat tempur Israel ke rumah-rumah Allah di Jalur Gaza. Kalimat itu dituturkan Ramadhan Khaled al Afsy, salah seorang dari 13 korban luka yang sampai di rumah sakit Nasher di Kairo, Mesir, dari total 36 korban luka Jalur Gaza yang berhasil dibawa ke wilayah Mesir.

Khaled (27), menuturkan sisi lain “genosida Gaza yang kedua”. Dia mengatakan, “Saya adalah satu di antara warga kamp pengungsi Nusairat di Jalur Gaza. Bersamaan dengan dimulainya gempuran Israel ke seluruh wilayah Jalur Gaza Sabtu (27/12) siang lalu, saya bersama sekelompok orang berangkat menunaikan shalat dzuhur di masjid al Zahra, sebuah masjid kecil di kamp pengungsi Nusairat.”

Dia menambahkan, “Baru saja kami memulai pada rekaat pertama hingga missil-missil pesawat pembunuhan Israel menghantam kami saat kami sedang bersujud. Saya saat itu hanya bica memohon kepada Allah agar melindungi kami semua dari segala keburukan dan mengembalikan tipu daya mereka ke leher-leher mereka.”

Dia merasa bersyukur atas apa yang menimpanya, lebih baik dari apa yang menimpa yang lainnya. Khaled menuturkan, “Tiba-tiba saja masjid sudah dihancurkan total dari atas kepala-kepala kami. Bukan hanya masjid satu-satunya. Namun sejumlah rumah warga di sekitar masjid juga dihancurkan. Nasibku agak lebih baik. Karena saya berada di dekat pintu masjid yang dipenuhi dengan jamaah shalat. Saya berhasil dikeluarkan dengan segera dari bawah reruntuhan puing-puing masjid dan dibawa ke rumah sakit. Kami, 40 jamaah shalat tertimpa masjid dari atas kepala-kepala kami akibat bombardemen Israel. Saya tidak tahu sampai sekarang, apa yang terjadi pada mereka (jamaah yang lain).”

Khaled, meskipun mengalami patah tulang di kedua pundahknya dan sejumlah tulang rusuk serta terkena serpihan rudal di pinggang kanannya, sehingga membuatnya sangat sulit berbicara, namun dia terus melanjutkan penuturannya. “Sesampainya saya di rumah sakit as Shifa di kotaGaza, saya tahu bahwa Zionis Israel menjadikan masjid-masjid sebagai sasaran bombardemennya. Saya tahu pesawat-pesawat tempur Israel menghancurkan sejumlah masjid lainnya. Di antaranya adalah masjid as Shifa di barat Gaza, masjid al Qassam di Khan Yunis, masjid Imad Aqil di utara Jalur Gaza, masjid Abu Bakar ash Shidiq di kamp pengungsi Jabaliya dan masjid al Istiqamah di kota Rafah,” tuturnya.

Khaled, yang kini dirawat di lantai empat bagian gawat darurat di rumah sakit Nasher, Mesir, dengan bercucuran air mata melanjutkan penuturannya. “Saya memiliki 9 anak. Saya tidak tahu nasib sebagian dari mereka sekarang. Meskipun salah seorang anak saya sudah menghubungi saya dan menenangkan saya soal mereka, namun saya belum mendengar suara mereka. Saya cemas mereka tertimpa bahaya,” ungkapnya sedih.

Mengenai perjalanannya hingga sampai ke Mesir dia mengatakan, “Saya tinggal di rumah sakit as Shifa di Jalur Gaza selama dua hari. Selama itu kondisi saya terus memburuk. Senin malam saya sampai di Kairo setelah diangkut mobil ambulan dari kotaGaza ke perbatasan Mesir. Kemudian mobil ambulan di perbatasan Mesir membawa saya ke rumah sakit Arisy. Dari sana saya dibawa ke Kairo karena saya sangat membutuhkan tindakan operasi cukup rumit.”

Para Dokter Menangis

Dengan suara bercampur cucuran air mata, Khaled menyerukan semua pihak segera membawa para korban luka agresi biadab Israel di Jalur Gaza ke Mesir untuk mendapatkan pengobatan. “Para dokter di rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza menangir karena kengerian yang mereka saksikan dan sedikitnya kemampuan yang mereka miliki. Saya sampaikan kepada semua, rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza sama sekali tidak memiliki apa-apa untuk mengobati korban. Semua penuh dengan korban luka.”

Di kamar sebelah Khaled, berbaring rekannya bernama Syukri Muhammad Riyad, yang menuturkan kondisi kerja pegawai medis di Jalur Gaza. “Saya bekerja di departemen kesehatan pemerintah Gaza di kota Rafah. Saat saya melakukan tugas mengevakuasi korban luka, kepala saya kejatuhan bagian tembok yang roboh dan membuat jaringan mata saya terputus.”

Dengan sangat sedih Riyad menegaskan, “Korban luka di rumah sakit-rumah sakit Jalur Gaza tidak mendapatkan apa-apa bahkan sekadar tempat untuk meringankan rasa sakit mereka. Kami semua berharap derita sakit itu bisa berkurang dengan pengiriman korban luka ke rumah sakit-rumah sakit Mesir dan sampainya bantuan Arab ke Jalur Gaza.” Hingga Selasa (30/12), jumlah korban luka yang sampai di Mesir baru 36 orang, sebagian besar mereka dalam kondisi kritis, untuk mendapatkan pengobatan yang semestinya.

Korban Terus Bertambah

Sejak sabtu (27/12) siang jet-jet tempur Zionis Israel membombardir seluruh wilayah Jalur Gaza. Rumah-rumah warga, masjid dan fasilitas umum menjadi target bombardemen Israel. Hingga hari keenam, Kamis 01/01/09), jumlah korban gugur mencapai lebih 420-an syuhada dan lebih 2100-an terluka, 300-an di antaranya dalam kondisi kritis.

Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem sebelumnya telah menegaskan bahwa korban pembantaian terbuka yang dilakukan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak hari Sabtu (27/12), terus bertambah banyak. Terlebih ada ratusan korban luka yang dalam kondisi kritis dan puluhan lainnya masih di bawah puing-puing reruntuhan.

Naeen menegaskan persediaan obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya sangat kurang untuk menghadapi kondisi darurat ini. Dia mengungakapkan ada 105 jenis obat-obatan utama yang stoknya nol, 225 kebutuhan medis lainnya stoknya juga nol. Sementara itu 93 bahan khusus laboratoriam stoknya juga nol.

Naeem mengatakan 50% mobil ambulan tidak bisa beroperasi karena tidak ada gas dan bahan bakar akibat blockade. Saat ini juga sangat dibutuhkan pembangkit listrik. Naeem menegaskan semua itu sudah terjadi sejak sebelum pembantaian yang dimulai Israel Sabtu lalu dan akibat blockade Israel. Dia mengatakan, “Agresi terjadi di tengah-tengah sikap diam Arab yang membunuh dan persekongkolan dunia.”

Dia menyatakan pasukan penjajah Zionis Israel tidak hanya menggempur isntitusi-institusi dan gedung-gedung namun mulai mengempur fasilitas-fasilits sipil dan rumah-rumah warga. Ada puluhan peringatan untuk mengosongkan rumah dan ancaman kepada para penghuninya akan dihancurkan di atas kepala mereka. Dia meminta pengiriman tim medis Arab dan rumah sakit-rumah sakit lapangan untuk membantu pengobatan korban luka di saat-saat korban tiba. Dia mengimbau Negara-negara Arab untuk mengirim obat-obatan dan kebutuhan medis secepatnya dan mengganti kekurangan mobil ambulan dengan mengirim mobil ambulan yang siap beroperasi.

Pihak Mesir sendiri tetap menolak membuka pintu gerbang Rafah untuk pengiriman obat-obatan, peralatan medis serta tim medisnya ke Jalur Gaza. Mesir hanya mengizinkan pengiriman korban ke gerbang Rafah untuk kemudian diangkut ke Mesir atau Negara Arab lainnya.

Mengenai pengiriman korban luka melalui gerbag Rafah ke Mesir, Naeem mengatakan, “Ada kesulitan membawa korban ke luar Jalur Gaza. Padahal ada banyak korban luka yang sangat serius. Apapun upaya membawa korban dengan tidak aman justru membuat hidup mereka terancam bahaya. Kami masih ingat meninggalnya 6 korban luka di Arisy terakhir.”

Dia mengatakan, “Kami siap membawa korban luka kapan kondisi mereka stabil.” Dia menegaskan bahwa pemerintah Haniyah sudah meminta mobil ambulan Mesir masuk ke Gaza untuk mengevakuasi korban namun mereka menolak dengan alasan politik. Naeem mengatakan, “Siapa yang ingin membantu rakyat Palestina dalam ujian ini maka harus memudahkan sampainya tim dokter dan rumah sakit lapangan masuk secepatnya pada saat-saat sulit di Jalur Gaza.”

Menurutnya, sudah ada ratusan dokter Arab yang menunjukkan kesiapan mereka untuk masuk ke Jalur Gaza. Sebagian mereka sudah bermalam di sisi perbatasan Mesir dari gerbang Rafah berharap bisa masuk. Namun otoritas Mesir menahan mereka.

Dia menambahkan, bahkan tim medis dari departemen kesehatan Palestina sudah berada di sisi Jalur Gaza dari gerbang Rfah sejak pagi untuk menerima bantuan medis Arab, namun otoritas Mesir tidak mengizinkan mereka masuk hingga saat ini.

Naeen mengucapkan terima kasih kepada Negara-negara yang sudah membantu seperti Qatar, Arab Saudi dan Libia. Namun pihaknya kembali meminta Mesir mempermudah masuknya bantuan ini dan membuka gerbang untuk masuk tim tim medis ke Jalur Gaza. (seto)

Bersatu Lawan Israel


“Umat Islam harus bersatu melawan Israel, Dunia harus bersatu. Hamas dan Fatah harus bersatu melawan Israel. Jika tidak bersatu tidak akan pernah menang.” Ujar Tifatul.

PK-Sejahtera Online: Jakarta memutih. Sesuai janji Presiden PKS di depan kedubes AS pada hari rabu lalu, PKS mengerahkan massa lebih besar hari ini (2/01/09). Sekitar dua ratus ribu kader dan simpatisan PKS menyemut menuju Bunderan HI sejak Jumat pagi.

Aksi ini adalah sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina yang hingga hari ini, belum terlihat adanya petanda dari Israel untuk mengakhiri serangan brutalnya ke Jalur Gaza. Bahkan aksi mereka semakin menjadi. Masjid dan rumah sakit pun tidak luput dari serangan bom Israel.

“Kita bisa melihat bahwa status Israel atas palestina adalah penjajahan yang sangat mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Jelas sudah bahwa Israel adalah teroris sesungguhnya. Mereka mencaplok tanah palestina dan membunuh orang seenaknya. Kita teringat pada ulama Palestina Syaikh Ahmad Yasin yang dibunuh saat pulang sholat subuh. Dulu beliau ditembak dengan senjata helikopter apache. Dan ketika itu, dunia tetap bungkam melihat kekejaman Israel.” Papar Presiden PKS, Tifatul Sembiring.

Tifatul juga menggambarkan bagaimana Israel telah memecah belah rakyat Palestina. Mengadu domba antara Hamas dengan Fatah. Israel juga tidak malu dan ragu sedikitpun memblokade Gaza bertahun tahun, menyetop aliran listrik, air, dan bahan bakar. Lebih dari itu, Israel bahkan menutup arus bantuan kemanusiaan dan pintu perbatasan serta mengurung Gaza dari dunia luar dengan tembok pemisah. Tetapi pejuang palestina tidak mau menyerah. Israel frustasi dan menjatuhkan bom ke Gaza. 390 orang meninggal dan 1400 orang terluka (sumber Aljazeera)

“Umat Islam harus bersatu melawan Israel, Dunia harus bersatu. Hamas dan Fatah harus bersatu melawan Israel. Jika tidak bersatu tidak akan pernah menang.” Ujar Tifatul.

Tifatul juga mempertanyakan sikap presiden AS, “Bush, apa alasanmu mendukung Israel atas pembantaian penduduk sipil?”. Kepada presiden terpilih AS, Barack Hussein Obama, Tifatul menyeru agar Obama berani mengubah sikap Amerika dengan tidak lagi mendukung Israel.

Selain melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk solidaritas dan dukungan, massa PKS juga melakukan penggalangan dana untuk bantuan atas rakyat Pelestina. PKS kembali menggalang program one men one dollar for Palestine. Bagi pengendara bermotor yang akan melintas jalan Thamrin dan hendak berkontribusi mendukung rakyat palestina dengan bantuan dana, PKS menyediakan kotak sumbangan. Seluruh bantuan dan yang terkumpul akan disalurkan melalui Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP)

Bagi masyarakat yang hendak mengirimkan bantuan melalui bank, dapat mengirimkan pada rekening KNRP di BCA BCA Jatinegara Barat. No Rek. 7600325099 a.n. Komnas untuk Rakyat Palestina.

Pengirim: MHN Update: 02/01/2009 Oleh: MHN

Sumber:pk-sejahtera.org

Kamis, 01 Januari 2009

PKS Siapkan Demo Sejuta Ummat Save Palestine


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kepada seluruh kader dan simpatisan PKS serta seluruh masyarakat Indonesia yang dirahmati Allah SWT. Marilah kita satukan hati dan langkah untuk membantu meringankan beban penderitaan saudara kita di bumi Palestina.

Oleh karena itu, DPP PKS Mengundang seluruh masyarakat Indonesia untuk hadir pada Aksi Solidaritas Untuk Rakyat Palestina, yang Insya Allah akan digelar pada hari Jum’at, 2 Januari 2009, pukul 13.00 WIB, di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta.

Sisihkanlah sebagian rizki yang kita miliki melalui aksi “One Man One Dollar To Save Palestine”.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Presiden PKS
Ir. Tifatul Sembiring

Selasa, 30 Desember 2008

Israel Gunakan Bom-Bom Jenis Baru Kiriman dari AS


AS bukan hanya mendukung secara moril terhadap Israel untuk melakukan aksi biadabnya ke Jalur Gaza. Negara Paman Sam itu juga memberikan bantuan dari sisi persenjataan sebelum Israel memutuskan menyerang Jalur Gaza.

Dalam serangan ke Gaza, pasukan udara Israel diketahui menggunakan misil-misil penghancur bunker jenis baru yang dikirim dari negara sekutunya, Amerika Serikat. Misil jenis GBU-39 adalah misil rancangan baru AS yang dibuat dalam bentuk bom-bom berdiameter kecil. AS merancang misil itu dengan biaya murah tapi tetap memiliki tingkat presisi yang tinggi dan daya hancur yang dahsyat.

Surat kabar The Jerusalem Post dalam laporannya menyebutkan bahwa Israel membeli sebanyak 1.000 misil GBU-39 dari AS atas persetujuan Kongres tiga bulan sebelum melakukan serangan brutal ke Jalur Gaza. Dan menurut sejumlah pejabat keamanan Israel, kapal pertama yang membawa misil-misil itu tiba di Israel awal bulan Desember kemarin.

Masih menurut para pejabat Israel tadi, misil-misil itu digunakan dalam serangan udara pasukan udara ke Jalur Gaza yang dimulai hari Sabtu kemarin dan berhasil menghancurkan target berupa tempat-tempat peluncuran misil al-Qassam milik Hamas di Gaza. Misil-misil itu pula yang digunakan Israel untuk membombardir terowongan-terowongan di Rafah, perbatasan Gaza-Mesir.

Misil jenis GBU-39 merupakan salah satu jenis bom di dunia yang paling akurat. Jenis GBU seberat 113 kilogram memiliki kemampuan penetrasi yang sama dengan GBU dengan berat normal 900 kilogram, meskipun bom jenis ini hanya mengandung 22,7 kilogram bahan peledak.

Dengan panjang hanya 1,75 meter, memungkinkan pesawat-pesawat pembom membawa bom jenis ini dengan jumlah besar sehingga bisa menghancurkan lebih banyak target dalam waktu singkat. (ln/arabnews)
sumber:eramuslim.com

Senin, 29 Desember 2008

Dipastikan Korban Bertambah Jadi 350 Orang


Gaza-infopalestina : Selama lebih dari 41 tahun Palestina dibawah penjajahan Israel, korban kali ini yang terbanyak. Lebih dari 271 warga Palestina gugur sebagai syuhada dan 750 lainya luka-luka dalam serangan besar-besaran roket Israel Sabtu (27/12).

Lebih dari 200 pesawat tempur F 16 Israel meraung-rang di atas langit Gaza. Mereka melancarkan serangan besar-besaran, membunuh warga Palestina tak berdosa. Lebih dari 50 titik serangan Israel kemarin bergema di seluruh Gaza. Kondisi ini diperparah dengan terputusnya aliran listrik di Gaza akibat blockade serta habisnya obat-obatan di sejumlah rumah sakit, mengakibatkan jumlah korban yang jatuh lebih banyak.

Departemen kesehatan Palestina menyebutkan, lebih dari 271 warga meninggal dan 750 lainya luka-luka. 200 diantaranya luka parah. Mereka terdiri dari anak-anak dan wanita. Kemungkinan korban akan terus bertambah. Jumlahnya bisa mencapai 350 orang.

Direktur emergency Palestina, Muawiyah Husnain menyebutkan, saat ini ada sekitar 15 syuhada yang gugur yang belum diketahui identitasnya. Sementara itu ada sekitar 80 syahid lainya yang sudah dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Gaza dan puluhan lainya masih tertimbn di bawah reruntuhan gedung yang roboh akibat serangan udara Israel.

Hingga tadi pagi (Ahad 28/12) pasukan udara Israel belum berhenti melakukan serangannya ke berbagai wilayah di Jalur Gaza. Yang paling mengkhawatirkan ungkap Husnain adalah menipisnya cadangan obat-obatan serta peralatan emergency serta minimnya alat-alat untuk pembedahan. Ia menghimbau Negara-negara Arab dan ikatan Dokter internasional untuk mengirimkan obat-obatan secepatnya ke Jalur Gaza.

Mayoritas korban umumnya sangat mengkhawatirkan. Tidak mungkin mereka ditransfer ke luar Gaza, kecuali jika kondisinya sudah mulai mendingan. Tim Emergency juga meminta dikirimkan helicopter agar penanganan korban lebih cepat. (asy)

Biadab!


Mayat bergelimpangan akibat serangan udara Zionis-Israel di Gaza (27/12).
Sedikitnya 270 orang syahid akibat serangan membabi buta Zionis.
Tahun Baru Islam, yang seharusnya disambut gembira, dikotori Israel.

[rtr]
sumber:pkspiyungan.blogspot.com